Redha Ibu, Redha Allah

REDHA IBU, REDHA ALLAH

Author :- Natasia Maiza
Maraji’ :- Al- Kuliyyah

Rasulullah sudah yatim sejak dilahirkan, kerana ayahnya wafat ketika ia masih dalam kandungan ibunya. Dalam usia enam tahun, kepedihannya bertambah setelah ibunya wafat menyusul ayahnya. Muhammad kecil diasuh oleh datuk, kemudian berpindah lagi kepada bapa saudaranya, Abu Thalib.

Meskipun hanya beberapa tahun berada dalam dekapan ibunya, Rasulullah merasakan benar kasih sayangnya. Kenangan manis bersama ibunda sangat berbekas, melahirkan sifat kasih dan hormat, terutama kepada kaum ibu. Kepada ibu-ibu yang pernah menyusuinya, beliau memberikan penghormatan dan penghargaan yang setingi-tingginya.

terima kasih ibu = loveiscinta

Dalam Sunah Abu Daud, diriwayatkan dari Abu Thufail ra, katanya:

”Aku pernah melihat Nabi saw sedang membahagikan daging di Al-Ji’ranah, tiba-tiba ada seorang perempuan datang sampai dekat kepada Nabi saw, lalu beliau menghamparkan alas duduknya untuk perempuan itu. Maka ia duduk di atasnya. Lantas aku bertanya, ‘siapakah perempuan itu?’ Para sahabat menjawab, ‘ia adalah ibu beliau yang pernah menyusuinya.”

Islam memberikan perhormatan dan kedudukan yang amat tinggi kepada para ibu, sampai sampai disebut bahwa “syurga berada di telapak kaki ibu”. Seseorang yang menghormati ibunya akan ditempatkan di syurga, sementara anak yang mendurhakai ibunya akan ditempatkan pada posisi yang hina.

Adalah Umar bin Khaththab seorang anak yang sangat hormat kepada ibunya, sampai dalam masalah yang sekecil-kecilnya. Dalam hal makan, misalnya, ia tidak pernah makan mendahului ibunya. Ia bahkan tak berani makan bersama-sama dengan ibunya, sebab ia khawatir akan mengambil dan memakan hidangan yang tersedia di meja, sementara ibunya menginginkan makanan tersebut. Baginya, seorang ibu telah mendahulukan anaknya selama bertahun-tahun ketika sang anak masih kecil dan lemah.

Kasih ibu tak pernah terbalas oleh apapun juga. Yang bisa dilakukan anak hanyalah memberi penghormatan dan pelayanan, terutama ketika mereka sudah tua dan dalam keadaan lemah. Dalam hal ini Rasulullah mengingatkan kaum muslimin, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim, beliau bersabda:

Dari Abu Hurairah ra, katanya, Rasululah saw bersabda :

“Hidungnya harus direndahkan ke tanah, hidungnya harus direndahkan ke tanah, hidungnya harus direndahkan ke tanah.” Beliau ditanya: “Ya Rasulullah, siapa?” Jawabnya, “Orang yang mendapatkan kesempatan baik untuk membantu kedua orang tuanya di masa tuanya, baik salah satunya maupun kedua-duanya, tetapi ia gagal mendapatkan dirinya masuk syurga.” 

Dengan alasan apapun, orang tua, terutama ibu harus mendapatkan penghormatan dan pelayanan yang utama. Sesibuk apapun, sesulit apapun, ibu harus tetap dihormati dan dilayani. Ketika ia memanggil, maka pangilannya harus segera dijawab. Yang menghalangi panggilan ibu untuk tidak dijawab hanya satu, yaitu ketika seseorang sedang menjalankan solat fardhu. Di luar itu, semua panggilan ibu harus dijawab. Misalnya, seorang yang sedang mengerjakan solat sunnah, tiba-tiba sang ibu memanggil, maka panggilan ibu hendaknya dipenuhi terlebih dahulu. solat sunnah untuk sementara dibatalkan, untuk memenuhi panggilan ibu.

Dengan demikian, tidak ada alasan bagi anak mengabaikan panggilan ibunya. Ketika sang ibu menahan rindu kepada anaknya, sedang ia menghubungi agar anaknya pulang, maka anak yang soleh akan mengusahakan dengan segenap daya untuk memenuhi panggilannya. Apalagi jika sang ibu sedang sakit atau sedang memmerlukan bantuan.

Dalam satu hadits yang amat panjang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, Rasululah menceritakan:

“… Juraij adalah seorang ahli ibadah, lalu ia membuat biara agar ia dapat lebih tenang beribadah. Tiba-tiba datang ibunya sedang ia masih tengah melakukan solat, lalu sang ibu memanggil: ‘hai Juraij!’ Kemudian Juraij berkata (dalam hati), ‘Wahai Rabb, kupenuhi panggilan ibuku atau aku tetap melaksanakan solat?’ Maka ia pun melanjutkan solatnya, sampai ibunya berpaling. Esok harinya, sang ibu datang kembali sedang ia masih dalam keadaan solat, kemudian sang ibu memanggil, ‘Hai Juraij!’ Maka berkalah ia (dalam hatinya), ‘Ya Tuhanku, ibuku atau solatku?’ Maka ia pun melanjutkan solatnya. Kemudian pada esok harinya sang ibu datang kembali, sedang ia masih solat, lalu sang ibu memanggilnya, ‘Hai Juraij!’ Ia pun berkata (dalam hatinya), ‘Ya Allah, ibuku atau solatku?’ Ia pun melanjutkan solatnya. Maka ibunya berdo’a, ‘Ya Allah, janganlah Engkau matikan ia sebelum ia melihat wajah pelacur!” Maka kesohorlah nama Juraij di kalangan Bani Israil sebagai seorang ahli ibadah. 

Kemudian ada seorang pelacur yang terkenal kecantikannya bersumpah, jika kalian setujui, aku akan menggodanya. Lalu perempuan itu menampakkan diri di hadapannya tetapi sama sekali Juraij tidak memperhatikannya. Kemudian pelacur itu mendatangi seorang pengembala kambing yang tinggal di biara Juraij untuk digodanya sehingga terjadilan perbuatan mesum sampai ia hamil. Setelah perempuan itu melahirkan, ia berkata ‘Anakku ini adalah hasil hubunganku dengan Juraij.’ Maka orang-orang berdatangan ke tempat Juraij, kemudian ia diturunkan dari biaranya, kemudian biara itu dihancurkan.

Juraij bertanya, “Mengapa kalian berbuat seperti ini?”

Orang-orang itu menjawab, “Sebab engkau telah berbuat mesum dengan pelacur itu hingga ia melahirkan anak dari hasil hubungan gelapnya denganmu!”

“Mana bayi itu?” tanya Juraij kemudian bertanya kepada si bayi, “Hai bayi, siapakah ayahmu?” Aneh bin ajaib tiba-tiba bayi itu bisa berkata, “Si Fulan, seorang pengembala kambing.”

Atas kejadian itu masyarakat merangkul Juraij, menciumnya, serta mengelus-elus badannya seraya mereka berjanji, “Kami akan membangun biaramu dari emas.” Juraij berkata “Tidak, kembalikan saja sebagaimana semula terbuat dari tanah liat.” Maka merekapun kembali membangun biaranya… (HR. Bukhari dan Muslim) 

Nukilan hadits panjang dalam Shahih Bukhari dan Muslim itu merupakan pelajaran bagi ummat Muhammad agar mereka senantiasa menghormati dan memenuhi panggilan ibunya. Sekalipun untuk tujuan ibadah, mengabaikan panggilan ibu merupakan kesalahan yang bisa fatal akibatnya. Jika seorang ibu sampai sakit hati, lalu ia berdo’a, maka do’a itu langsung menuju ke ‘Arsy dan diterima Allah. Untung jika do’anya baik, tapi kalau sang ibu berdo’a untuk kecelakaan anaknya, maka bisa fatal akibatnya.

Juraij adalah contohnya, sekiranya ia sejenak menemui ibunya, membatalkan solat sunnahnya, fitnah itu tak akan pernah sampai dialaminya. Akan tetapi kerana ia mengabaikan panggilan ibunya, maka fitnah sebagaimana yang diharapkan ibunya akhirnya menimpanya. Untungnya si bayi mendapat mu’jizat berupa kemampuan untuk berkata sehingga bisa menunjuk seseorang sebagai ayahnya. Jika tidak, bukan saja biaranya yang dirusak massa, tapi juga dirinya.

Kisah Juraij di atas mengingatkan kita pada seorang sahabat yang bernama al-Qomah. Ketika sakaratul maut ia menghadapi masalah besar, seolah Malaikat mempermainkan nyawanya. Merasa iba terhadap nasib al-Qomah, Rasululah kemudian memanggil ibunya agar ia mau datang menemui anaknya dan memaafkan kesalahan. Setelah sang ibu memaafkan, maka lancarlah kematiannya.

ibu = loveiscinta

Dalam ajaran Islam, tidak bersegera memenuhi pangilan ibu sudah tercatat sebagai dosa, bahkan sekadar berkata “uugh” kepada orang tua, sudah tergolong perbuatan durhaka. Apalagi membentak, apalagi melakukan kekerasan kepadanya. Durhaka kepada orang tua, terutama ibu merupakan dosa besar setelah syirik kepada Allah. Bahkan dosa ini tergolong dosa yang tak terampuni. Dalam Sya’bul Iman dikisahkan bahwa Abu Bakrah ra, berkata, Rasulullah saw bersabda:

“Semua dosa akan diampuni oleh Allah ta’ala di antaranya yang Dia kehendaki, kecuali perbuatan durhaka kepada kedua orang tua. Sesunguhnya perbuatan ini dapat mempercepat kehidupan pelakunya sebelum ia mati.”

Wal ilmu indallah.

Merajut Cinta Dalam Buaian Pena…
Merangkai Kasih Dalam Pautan Kata…
Menyemai Sayang Dalam Untaian Bahasa…

Jom Komen...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s