My Mr. Right / Lelaki Pilihan

ikhwanMen Who selection of men preferred the Muslim woman to be a companion to live An official, wealthy, or the handsome face It may be that this is not the top choice and more decided to throw in men with standard height requirement of faith, worship and social and religious activities are more of them. Or just a mediocre and even below par himself with a record as long as he is still a Muslim.

The choices were often raised in line with the plans and desires of a woman to go through the fabric of the home. Therefore, it seems today’s increasingly difficult to find the ideal man and the “ace”. Certainly not for the lame comparison of the number of men and women. However, more likely to be more developed vibrant Islamic activities among Muslim women than men, though it is still necessary to verify the correct statistics.

The question now is whether a woman requires a reasonable level of faith (religion) is higher on her husband Marriage is the most powerful and enduring bond between the two types of beings. He brought many things for a person more positive than celibacy. The soul needs to be tied to the strong bond solid again. This binder is aqidah. Since only aqidah can lead one’s life, drive the hearts, minds and feelings, as well as the effect of instilling the most memorable, and then determine the course of their lives.

marriage proposalIn this regard, the scholars agree on prohibition of a Muslim woman to marry pagan men, both pagan polytheists and disbelievers kitabi. It was also confirmed by Allah in His Word,

“… and ye marry believing women of the idolaters with before they believe. Indeed the pious slave is better than a polytheist even though he pulled his heart … “(Qur’an / Al-Baqarah: 221).

Theoretically, the nature of women will tend to follow her husband. While the system of Islam, the husband is the head of the family. This reflects that the condition of a husband who is more established and high faith into a condition that can not be ignored.

marriage proposal

In the meantime, there is a tendency for Muslim men (intentionally or not) delay marriage for different reasons. Studies, career, economic problems, want more put the interests of the family and a variety of other reasons. The condition is true it is very contradictory to the situation experienced by Muslim women. For Muslim women who understand well the concept of Islam, which is the main measure is the level of devotion and faith level of prospective husbands.

While wealth, occupation, physical appearance and background to be an advantage although not dismiss nor the desire to get a ‘better’ than all of those requirements. That is, the desire to have a husband with an attractive appearance, wealth fairly supported positions that promises to be nothing more important for a Muslim woman if the main requirement, namely the level of good faith and morality are not owned by the prospective mate.

Many Muslim women today who argue that it does not hurt to get a companion live a pious, handsome, and well educated enough possessions. The opinion was not wrong, but also not be true if it be a reason to reject any pious man who came for not meeting other requirements.

This was confirmed in a hadith the Prophet Muhammad,

From Abi Hatim al Muzani, he said, “The Messenger of Allah said,

“When it comes (woo) unto whom you pleasure over his religion and morality, then nikahkanlah (son with) him. If you do it will not slander arose on earth, and great mischief, ”

They asked, “O Messenger of Allah, if it’s there ” He replied, “When it comes (woo) to you, the person you pleasure (because of) his religion and morality, then nikahkanlah son with him.” (Spoken three times) ( HR. Tirmidhi)

Imam Asy Syaukani said,

“Man you pleasure as his religion and morality”

in the hadith above, indicates that kufu it comes to their religion and morality. While Imam Malik confirmed that it concerns only kufu religion. Similarly, what is quoted from Umar and Ibn Mas’ud and the like Muhammad Ibn Sirin tabi’in and Umar bin Abdul Aziz on the basis of the word:

“Verily the noblest among you is the most pious to Him.”

From the point of marriage, kufu in the sense of religion has become an absolute terms. However, kufu of the morality of a further consideration. It concerns the future of the primacy of a Muslim family in the middle of other Muslim families. Hence, the Prophet Muhammad said that when that comes it is a good religion and its morality, then (if his daughter did not mind) courtship should be accepted.

marriage marriage 1

Religion and morality are the ideal size for a good husband. From this side of normal if a Muslim woman wants to get more value from a potential husband, at least compared to his own. But enough is grateful for the blessings and grace of Allah Almighty granted if it is God’s choice for a Muslim woman who … uuuuum, Sholeh, handsome, educated and quite a treasure.

Should he not be takabbur (arrogant) consider himself more noble than other Muslim women, for verily for all the blessings God gives, God also leave details therein exam to test whether his servant grateful or otherwise.

(Bay / some Islamic sources ….)

*******************************************************************

Lelaki Pilihan…?

Siapa laki-laki pilihan para wanita muslimah untuk menjadi pendamping hidup? Seorang pejabat, hartawan, atau si wajah tampan? Bisa jadi itu semua bukan pilihan utama dan lebih menjatuhkan pilihannya pada laki-laki dengan syarat ketinggian taraf keimanan, ibadah serta aktifitas sosial dan dakwah yang lebih darinya. Ataukah cukup yang biasa-biasa saja dan setara bahkan lebih rendah dari dirinya dengan catatan selama ia masih beragama Islam.

Pilihan-pilihan itu sering mengemuka seiring dengan rencana dan keinginan seorang wanita untuk menempuh jalinan rumah tangga. Sebab, konon saat ini semakin sulit mencari laki-laki ideal dan “jempolan”. Tentu bukan karena timpangnya perbandingan jumlah laki-laki dan wanita. Namun lebih dimungkinkan karena semarak aktifitas keislaman lebih berkembang di kalangan wanita muslimah dibandingkan laki-laki, meski hal itu masih perlu dilakukan verifikasi dengan data statistik yang benar.

Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah wajar kah seseorang wanita mensyaratkan kadar keimanan (agama) yang lebih tinggi atas calon suaminya? Nikah adalah ikatan paling kuat dan kekal antara dua jenis insan . Ia pun banyak membawa hal-hal yang lebih positif bagi seseorang daripada hidup membujang. Jiwa perlu diikat dengan pengikat yang kuat lagi kokoh. Pengikat ini adalah aqidah. Karena hanya aqidah yang dapat mengarahkan hidup seseorang, menyetir hati, pikiran dan perasaannya, serta menanamkan pengaruh yang paling berkesan, kemudian menentukan jalan kehidupan mereka.

Dalam kaitan inilah, para ulama bersepakat atas haramnya seorang wanita muslim mengawini laki-laki kafir, baik kafir musyrik ataupun kafir kitabi. Hal itu juga ditegaskan Allah SWT dalam firman-Nya,

“… dan janganlah kamu menikahkan orang musyrik dengan wanita beriman sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik dari seorang musyrik walaupun ia menarik hatimu …”

(QS/ Al-Baqarah:221).

Secara teoritis, tabiat wanita akan cenderung mengikuti suaminya. Sementara dalam sistem Islam, kepala keluarga adalah suami. Hal ini mencerminkan bahwa kondisi calon suami yang lebih mapan dan tinggi keimanannya menjadi satu syarat yang tidak bisa diabaikan.

Sementara itu, ada kecenderungan laki-laki muslim untuk (sengaja atau tidak) menunda pernikahan dengan beragam alasan. Studi, karir, masalah ekonomi, ingin lebih mendahulukan kepentingan keluarga dan berbagai alasan lainnya. Kondisi tersebut sesungguhnya justru sangat kontradiktif dengan keadaan yang dialami para muslimah. Bagi para wanita muslimah yang memahami konsep Islam secara baik, yang menjadi ukuran utama adalah kadar ketaqwaan dan tingkat keimanan dari calon suami.

Sementara harta, jabatan, penampilan fisik dan latar belakang menjadi tidak lebih diutamakan meski tidak pula menampik hasrat untuk mendapatkan yang ‘lebih’ dari semua persyaratan itu. Artinya, keinginan untuk mendapatkan suami dengan penampilan menarik, harta yang cukup ditopang jabatan yang menjanjikan menjadi tidak lebih penting bagi seorang wanita muslimah jika syarat utamanya, yakni kadar keimanan dan akhlaq yang baik tidak dimiliki oleh calon pendampingnya.

Banyak wanita muslimah saat ini yang berpendapat bahwa tidak ada salahnya untuk memperoleh pendamping hidup yang sholeh, tampan, cukup harta dan berpendidikan. Pendapat itu tidak salah, namun juga tidak menjadi benar jika itu menjadi alasan untuk menolak setiap laki-laki sholeh yang datang karena tidak memenuhi syarat lainnya.

Hal itu ditegaskan Rasulullah SAW dalam haditsnya,

Dari Abi Hatim al Muzani, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda,

“Apabila datang (meminang) kepadamu orang yang kamu ridha atas agamanya dan akhlaq nya, maka nikahkanlah (anakmu dengan) dia. Jika tidak kamu lakukan maka akan timbullah fitnah di bumi dan kerusakan yang besar,”

Mereka bertanya, “Ya Rasulullah, jika hal itu memang ada?” Beliau menjawab, “Apabila datang (meminang) kepadamu, orang yang engkau ridha (karena) agama dan akhlaq nya, maka nikahkanlah anakmu dengan dia.” (diucapkan tiga kali) (HR. Tirmidzi)

Imam Asy Syaukani mengatakan,

“orang yang kamu ridha karena agama dan akhlaq nya”

dalam hadits diatas, menunjukkan bahwa kufu itu menyangkut segi agama dan akhlaq. Sedangkan Imam Malik menegaskan bahwa kufu itu hanya menyangkut agama saja. Demikian juga apa yang dikutip dari Umar dan Ibnu Mas’ud dan kalangan tabi’in seperti Muhammad Ibn Sirin dan Umar bin Abdul Aziz dengan dasar firman:

“Sesungguhnya yang paling mulia diantara kamu adalah yang paling taqwa kepada-Nya.”

Dari sudut pernikahan, kufu dalam arti agama memang menjadi suatu ketentuan yang mutlak. Namun, kufu dari sisi akhlaq merupakan pertimbangan yang lebih jauh. Ini menyangkut masa depan keutamaan sebuah keluarga muslim di tengah keluarga muslim lainnya. Oleh karena itulah Rasulullah SAW menyatakan bahwa apabila yang datang itu adalah seorang yang baik agama dan akhlaq nya, maka (jika anak perempuannya juga tidak keberatan) pinangannya harus diterima.

Agama dan akhlaq adalah ukuran yang ideal bagi suami yang baik. Dari sisi inilah wajar bila seorang wanita muslimah ingin mendapatkan nilai lebih dari diri calon suaminya, minimal dibandingkan dirinya sendiri. Tetapi cukuplah bersyukur atas nikmat dan anugrah yang diberikan Allah SWT jika memang Allah menentukan pilihan bagi seorang muslimah yang …ehm, Sholeh, tampan, berpendidikan dan cukup harta.

Hendaknya ia tidak menjadi takabbur menganggap dirinya lebih mulia dari wanita muslimah lainnya, karena sesungguhnya atas segala nikmat yang Allah berikan, Allah titipkan pula ujian didalamnya untuk menguji apakah hamba-Nya bersyukur atau sebaliknya.

(bay/beberapa sumber islami….)

5 thoughts on “My Mr. Right / Lelaki Pilihan

Jom Komen...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s