Nyanyian Merdu

Saat aku menulis kembali ayat-ayat cinta yang terangkai dari pena Sang Gibran, airmata ini tidak putus-putus mengalir dan sebak menghimpit di segenap ruang dada ku. Alangkah bahagianya manusia yang bernama May Ziadah sehingga berkali-kali ku sebut ulang nama itu dan merasakan sosok pecinta yang ada di kedua jiwa. Terlalu sulit tuk menolak akan adanya kebetulan dari suratan dan kesamaan dari beberapa kisah yang ku tulis kembali, namun kecintaan ku terhadap sang penulis membuat jiwa ku terhanyut dalam pesona cinta dan dalam diam menghaturkan debur semangat bersama baitan cinta buat tatapan pembaca… Izin kan aku tuk mempersembahkan rasa Cinta ini lewat keindahan rangkaian hati…. Selamat Membaca…  
 
Karena CINTA Kita Selalu Ada : Natasia Maiza
 
khalil gibran
1 November 1920
 
May sayang,
Jiwa itu, May, tidak bisa melihat sesuatu dalam kehidupan ini kecuali apa yang ada dalam jiwa itu sendiri. Ia hanya percaya terhadap peristiwanya sendiri, dan jika ia mengalami sesuatu maka hasilnya menjadi bagian dari dirinya. Tahun lalu aku mengalami sesuatu yang ingin ku simpan menjadi rahasia, tetapi aku tak bisa melakukannya. Ternyata rahasia itu ku sampaikan juga kepada seorang kawan tempat aku biasanya mengadukan segala rahasiaku, karena aku merasa bahwa aku sangat memerlukan seseorang tempat aku mengutarakan isi hatiku. Tapi, tahukah kau apa yang di katakannya padaku? Tanpa pikir panjang ia berkata padaku : “Ini hanyalah nyanyian yang merdu.” Taruhlah seseorang mengatakan kepada ibu yang sedang menggendong bayi di tangannya bahwa ia sedang membawa sebuah patung kayu, apakah kira-kira jawabannya? Bagaimana perasaan si ibu itu?
 
surat gibran hal 94-95 - loveiscinta
 
Beberapa bulan telah lewat, namun kata-kata itu (“nyanyian merdu”) masih terngiang-ngiang di telinga, namun sahabatku itu tidak puas dengan apa yang di ucapkan saja. Ia juga mengawasiku, menegurku dan menusuk tanganku dengan paku setiap kali aku mencoba menyentuhnya. Akibatnya aku menjadi putus asa, tapi May, putus asa itu adalah sebuah rasa kasih yang mati. Itulah sebabnya baru-baru ini aku sengaja “duduk” di depanmu dan “memandang” wajahmu tanpa berkata sepatah katapun dan tidak hendak menulis sesuatu padamu, karena hatiku berkata: “Aku tak punya kesempatan untuk itu.”
Namun pada setiap musim dingin hati terdapat getaran musim semi, dan di balik selubung setiap malam terdapat senyum sang fajar. Kini, putus asaku telah berubah menjadi harapan.
 
 
——————————————-
 
Sumber :
Dari Buku Potret Diri Kahlil Gibran. Disusun dan di terjemahkan dari bahasa Arab ke dalam bahasa Inggris oleh Anthony R.Ferris. Di terjemahkan dari Kahlil Gibran, a Self-Portrait oleh M.Ruslan Shiddieq. Cetakan Pertama tahun 1989

Jom Komen...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s