KAHLIL GIBRAN

Dekatkan dahimu, Mariam, ya, dekatkan padaku. Ada sekuntum mawar putih dalam hatiku yang ingin kusemaikan di dekat dahimu. Betapa manisnya cinta bila mawar itu gemetar menahan malu …

(Nukilan dari surat Khalil Gibran kepada May Ziadah)

  

Saya tenggelam di bawah cakrawala nun jauh di sana, dan di sela awan-awan senja yang bentuknya nan mempesona, muncullah sekunar bintang. Bintang Johar, Sewi Cinta. Dalam hati aku bertanya, apakah bintang itu juga dihuni oleh insan seperti kita, yang saling mencintai dan mendendam rindu …?

(Nukilan dari surat May Ziadah kepada Khalil Gibran) 

Untaian kalimat demi kalimat seorang Kahlil Gibran yang mengandung makna kefilsafatan dan penuh puitis, dikenal oleh para peninat sastra di seluruh dunia, terutama melalui buah penanya The Prophet (Sang Nabi) , yang telah terbit dalam puluhan bahasa. Siapa saja yang mendalami tiap katanya akan tiba-tiba merinding saat membaca ayat demi ayat yang di tulis oleh beliau. Dan tidak di pungkiri ada banyak ungkapan kata yang terlempias lewat pena beliau mengundang jatuhnya airmata.

kahlil gibran vi - loveiscintaKalau kata saya, dia adalah Pujangga Cinta yang abadi, alami dan membawa sejuta cinta buat wanita yang di-cintai dalam persemadian abadi. Semua bait yang terangkaikan tidak mungkin lepas dari latar belakang kehidupan beliau, pandangan tentang filosofi keidupan serta pertiwa yang pernah di alami dan terlewatkan oleh Sang Pujangga ini. Beliau mengkaji, merenung dan kemudian merangkai semua itu lewat mata penanya yang tajam berbahasa dan berkarakter.

Kahlil Gibran merupakan lambang kesuksesan kaum imigran timur di dunia barat. Keharuman nama Kahlil Gibran hampir semua bangsa menciumnya. Gibran merupakan nama seniman yang melekat di hati anak-anak muda, diketahui oleh kalangan orang-orang tua, diakui keindahan karyanya oleh kritikus-kritikus sastra. Karya-karya Gibran yang telah diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa  memenuhi rak buku sastra di toko-toko buku terkenal di serata dunia.

Ghougassian (dalam Munir, 2005:48) menjelaskan tentang riwayat hidup Kahlil Gibran. Dia memiliki nama lengkap Gibran Kahlil Gibran. Nama ini berasal dari nama arabnya Jubran Khalil Jubran. Karena orang Amerika sulit mengucapkannya maka nama itu menjadi Kahlil Gibran. Kahlil Gibran lahir di kota Beshari, kota yang terletak di punggung gunung Lebanon pada tanggal 6 Januari 1883. Secara geografis ianya berada di bagian utara Lebanon, tidak jauh dari hutan cemara pada zaman Alkitab, di ketinggian lebih dari 5000 kaki, menghadap laut Mediterranean. Kota ini sarat dengan kebun anggur dan apel yang indah, buah-buahan yang besar, air terjun Kadisah dengan jurang yang sangat dalam. Bila kita membaca karya-karya Gibran maka keindahan alam ini seringkali menjadi latar cerita atau kisahnya.

Gibran berasal dari keluarga yang sederhana. Anak pertama dari tiga bersaudara ini lahir dari rahim seorang wanita yang bernama Kamila Rahme. Wanita ini merupakan putri seorang pendeta Kristen sekte Maronite. Ayahanda Kahlil bin Gibran adalah seorang penggembala yang tidak ingin merubah nasibnya menjadi seorang petani. Menurut keterangan Bushrui dan Joe Jenkins seperti yang ditulis di dalam Miftahul Munir; di dalam bukunya Filsafat Kahlil Gibran, Humanisme Theistic Kahlil Gibran sewaktu kecil mempunyai kesenangan yang berbeda dengan anak-anak sebayanya. Gibran waktu kecilnya lebih suka menyendiri, merenung dan tidak banyak tertawa. Ia lebih sering mencari kesenangan dengan menikmati keindahan alam. Keindahan alam ini di hayatinya dengan penuh arti dalam kekaguman.

Pada usia 10 tahun, tepatnya pada 25 Juni tahun 1895 Gibran bersama ibu dan kedua adik perempuannya, pindah ke Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Tak heran bila kemudian Gibran kecil mengalami kejutan budaya, seperti yang banyak dialami oleh para imigran lain yang berhamburan datang ke Amerika Serikat pada akhir abad ke-19. Keceriaan Gibran di bangku sekolah umum di Boston, diisi dengan masa akulturasinya maka bahasa dan gayanya dibentuk oleh corak kehidupan Amerika. Namun, proses Amerikanisasi Gibran hanya berlangsung selama tiga tahun karena setelah itu dia kembali ke Beirut, di mana dia belajar di College de la Sagasse sekolah tinggi Katholik-Maronit sejak tahun 1899 sampai 1902.

Selama awal masa remaja, visinya tentang tanah kelahiran dan masa depannya mulai terbentuk. Kesultanan Usmaniyah yang sudah lemah, sifat munafik organisasi gereja, dan peran kaum wanita Asia Barat yang sekadar sebagai pengabdi, mengilhami cara pandangnya yang kemudian dituangkan ke dalam karya-karyanya yang berbahasa Arab.

Gibran meninggalkan tanah airnya lagi saat ia berusia 19 tahun, namun ingatannya tak pernah bisa lepas dari Lebanon. Lebanon sudah menjadi inspirasinya. Di Boston dia menulis tentang negerinya itu untuk mengekspresikan dirinya. Ini yang kemudian justru memberinya kebebasan untuk menggabungkan 2 pengalaman budayanya yang berbeda menjadi satu.

Gibran menulis drama pertamanya di Paris dari tahun 1901 hingga 1902. Tatkala itu usianya menginjak 20 tahun. Karya pertamanya, “Spirits Rebellious” ditulis di Boston dan diterbitkan di New York City, yang berisi empat cerita kontemporer sebagai sindiran keras yang menyerang orang-orang korup yang dilihatnya. Akibatnya, Gibran menerima hukuman berupa pengucilan dari gereja Maronit. Akan tetapi, sindiran-sindiran Gibran itu tiba-tiba dianggap sebagai harapan dan suara pembebasan bagi kaum tertindas di Asia Barat.

Masa-masa pembentukan diri selama di Paris cerai-berai ketika Gibran menerima kabar dari Konsulat Jendral Turki, bahwa sebuah tragedi telah menghancurkan keluarganya. Adik perempuannya yang paling muda berumur 15 tahun, Sultana, meninggal karena TBC.

Gibran segera kembali ke Boston. Kakaknya, Peter, seorang pelayan toko yang menjadi tumpuan hidup saudara-saudara dan ibunya juga meninggal karena TBC. Ibu yang memuja dan dipujanya, Kamilah, juga telah meninggal dunia karena tumor ganas. Hanya adiknya, Marianna, yang masih tersisa, dan ia dihantui trauma penyakit dan kemiskinan keluarganya. Kematian anggota keluarga yang sangat dicintainya itu terjadi antara bulan Maret dan Juni tahun 1903. Gibran dan adiknya lantas harus menyangga sebuah keluarga yang tidak lengkap ini dan berusaha keras untuk menjaga kelangsungan hidupnya.

Pada tahun-tahun awal kehidupan mereka berdua, Marianna membiayai penerbitan karya-karya Gibran dengan biaya yang diperoleh dari hasil menjahit di Miss Teahan’s Gowns. Berkat kerja keras adiknya itu, Gibran dapat meneruskan karir keseniman dan kesasteraannya yang masih awal.

Pada tahun 1908 Gibran singgah di Paris lagi. Di sini dia hidup senang karena secara rutin menerima cukup uang dari Mary Haskell, seorang wanita kepala sekolah yang berusia 10 tahun lebih tua namun dikenal memiliki hubungan khusus dengannya sejak masih tinggal di Boston. Dari tahun 1909 sampai 1910, dia belajar di School of Beaux Arts dan Julian Academy. Kembali ke Boston, Gibran mendirikan sebuah studio di West Cedar Street di bagian kota Beacon Hill. Ia juga mengambil alih pembiayaan keluarganya.

Pada tahun 1911 Gibran pindah ke kota New York. Di New York Gibran bekerja di apartemen studionya di 51 West Tenth Street, sebuah bangunan yang sengaja didirikan untuk tempat ia melukis dan menulis.

Sebelum tahun 1912 “Broken Wings” telah diterbitkan dalam Bahasa Arab. Buku ini bercerita tentang cinta Selma Karami kepada seorang muridnya. Namun, Selma terpaksa menjadi tunangan kemenakannya sendiri sebelum akhirnya menikah dengan suami yang merupakan seorang uskup yang oportunis. Karya Gibran ini sering dianggap sebagai autobiography.

Pengaruh “Broken Wings” terasa sangat besar di dunia Arab karena di sini untuk pertama kalinya wanita-wanita Arab yang di nomorduakan mempunyai kesempatan untuk berbicara bahwa mereka adalah istri yang memiliki hak untuk memprotes struktur kekuasaan yang diatur dalam perkawinan. Cetakan pertama “Broken Wings” ini dipersembahkan untuk Mary Haskell.

Gibran sangat produktif dan hidupnya mengalami banyak perbedaan pada tahun-tahun berikutnya. Selain menulis dalam bahasa Arab, dia juga terus menyempurnakan penguasaan bahasa Inggrisnya dan mengembangkan kesenimanannya. Ketika terjadi perang besar di Lebanon, Gibran menjadi seorang pengamat dari kalangan nonpemerintah bagi masyarakat Suriah yang tinggal di Amerika.

kahlil gibran ii - loveiscintaKetika Gibran dewasa, pandangannya mengenai dunia Timur meredup. Pierre Loti, seorang novelis Perancis, yang sangat terpikat dengan dunia Timur pernah berkata pada Gibran, kalau hal ini sangat mengenaskan! Disadari atau tidak, Gibran memang telah belajar untuk mengagumi kehebatan Barat.

Sebelum tahun 1918, Gibran sudah siap meluncurkan karya pertamanya dalam bahasa Inggris, “The Madman”, “His Parables and Poems”. Persahabatan yang erat antara Mary tergambar dalam “The Madman”. Setelah “The Madman”, buku Gibran yang berbahasa Inggris adalah “Twenty Drawing”, 1919; “The Forerunne”, 1920; dan “Sang Nabi” pada tahun 1923, karya-karya itu adalah suatu cara agar dirinya memahami dunia sebagai orang dewasa dan sebagai seorang siswa sekolah di Lebanon, ditulis dalam bahasa Arab, namun tidak dipublikasikan dan kemudian dikembangkan lagi untuk ditulis ulang dalam bahasa Inggris pada tahun 19181922.

Sebelum terbitnya “Sang Nabi”, hubungan dekat antara Mary dan Gibran mulai tidak jelas. Mary dilamar Florance Minis, seorang pengusaha kaya dari Georgia. Ia menawarkan pada Mary sebuah kehidupan mewah dan mendesaknya agar melepaskan tanggung jawab pendidikannya. Walau hubungan Mary dan Gibran pada mulanya diwarnai dengan berbagai pertimbangan dan diskusi mengenai kemungkinan pernikahan mereka, namun pada dasarnya prinsip-prinsip Mary selama ini banyak yang berbeda dengan Gibran. Ketidaksabaran mereka dalam membina hubungan dekat dan penolakan mereka terhadap ikatan perkawinan dengan jelas telah merasuk ke dalam hubungan tersebut. Akhirnya Mary menerima Florance Minis.

Pada tahun 1920 Gibran mendirikan sebuah asosiasi penulis Arab yang dinamakan Arrabithah Al Alamia (Ikatan Penulis). Tujuan ikatan ini merombak kesusastraan Arab yang stagnan. Seiring dengan naiknya reputasi Gibran, ia memiliki banyak pengagum. Salah satunya adalah Barbara Young. Ia mengenal Gibran setelah membaca “Sang Nabi”. Barbara Young sendiri merupakan pemilik sebuah toko buku yang sebelumnya menjadi guru bahasa Inggris. Selama 8 tahun tinggal di New York, Barbara Young ikut aktif dalam kegiatan studio Gibran.

Gibran menyelesaikan “Sand and Foam” tahun 1926, dan “Jesus the Son of Man” pada tahun 1928. Ia juga membacakan naskah drama tulisannya, “Lazarus” pada tanggal 6 Januari 1929. Setelah itu Gibran menyelesaikan “The Earth Gods” pada tahun 1931. Karyanya yang lain “The Wanderer”, yang selama ini ada di tangan Mary, diterbitkan tanpa nama pada tahun 1932, setelah kematiannya. Juga tulisannya yang lain “The Garden of the Propeth”.

Bila kita kembali pada pokok pembicaraan kita tentang nuansa religiusitas dalam karya Kahlil Gibran banyak orang yang masih meragukan apa sebenarnya agama yang dianut Kahlil Gibran. Pada suatu waktu, di sebuah Fakultas Sastra seorang mahasiswa bertanya pada saya, “Kahlil Gibran ini agamanya apa?”. Mendengar pertanyaan itu entah bagaimana saya menjawabnya. Saya tahu kawan itu banyak membaca karya-karya Kahlil Gibran, dan karena banyak membaca karya Kahlil Gibran itulah muncul pertanyaan seperti itu.

Kahlil-Gibran

Bila kita lihat karya-karya Kahlil Gibran memang akan memunculkan kesan ambigu terhadap keyakinan Gibran. Dalam sebuah tulisannya Gibran pernah mengungkapkan bahwa dia menempatkan Yesus di sebelah hatinya, dan Muhammad pada belahan yang lainnya. Apa yang diungkapkan Gibran itu merupakan efek dari proses kreatifnya. Gibran membaca banyak buku karya Nietzsche, Derrida, Sartre, Plato dan tokoh pemikir dunia lainnya, bahkan dia mempelajari Bibel, Kitab suci Al-Quran dan hadis-hadis Nabi Muhammad. Dari pembacaannya inilah kemudian muncul kekagumannya pada dua tokoh agama besar saat ini, Nasrani dan Islam. Maka tak heran kalau kemudian dia menyandingkan Yesus dan Muhammad di hatinya. Hal ini bukan karena dia mencampur adukkan agama, tapi karena keintelektualan yang dimiliki olehnya mengambil manfaat dari apa yang di pelajarinya.

Kaitan apa yang disampaikan di atas dengan corak religiusitas lintas agama dalam karya Kahlil Gibran cukup jelas. Gibran menempatkan Tuhan semua manusia sebagai poros aktifitasnya. Kesan religiusitas lintas agama ini terlihat jelas dalam karya-karya Gibran. Ketika kita baca karyanya, maka tak heran bila Kahlil Gibran mengajarkan pada manusia untuk melihat keindahan di dalam ajaran Tuhan. Seperti dalam karyanya yang berjudul Trilogi Hikmah Abadi; Sang Nabi-Taman Sang Nabi-Suara Sang Guru.

“Jadikanlah keindahan sebagai agamamu dan hormatilah ia seperti memuja Tuhanmu, sebab keindahan adalah karya agung Tuhan. Percayalah kepada keindahan ilahiyah sebab itulah pujian awal terhadap kehidupan dan sumber dahaga kebahagiaan. (Gibran, 1999: 57)”

Dalam karyanya ini Kahlil Gibran mengakui sejujurnya bahwa keindahan adalah karya Tuhan. Gibran, sebagaimana yang kita tulis dari awal menempatkan Tuhan sebagai poros kehidupan. Termasuk dalam pemikirannya ini, bahwa semua yang ada di alam bertumpu pada Tuhan. Semua ada karena Tuhan menginginkannya ada.

Selain itu Kahlil Gibran berpikiran bahwa untuk menemukan Tuhan manusia juga harus melihat ciptaan-ciptaan Tuhan. Dalam ciptaan Tuhan itu akan ditemukan kemaha kuasaan Tuhan. Dalam perenungan terhadap alam maka akan bermuara pada kebesaran Tuhan.

“Jika kalian ingin menyaksikan Tuhan maka jangan pernah mengatakan atau menilai sesuatu, sebelum kalian melihat ke sekitarmu karena di situ kalian akan menyaksikan Tuhan sedang bermain bersama anak-anak kalian. Dan kalian lihatlah juga ke angkasa raya, karena Ia bersemayam di antara mega-mega, mengulurkan tangan-Nya dalam kilat yang membahana, lalu turun bersama hujan yang membasuh wajah dunia. Kalian akan melihat-Nya dalam setiap senyuman bunga, lalu membubung tinggi sambil melambaikan tangan-Nya menyalamimu dari puncak pohon cemara. (Gibran, 1999:87)”

Selain terhadap alam, Gibran juga menyihir manusia dengan cinta untuk melihat keagungan Tuhan. Dengan cinta kehidupan akan damai, terbebas dari keangkaran murkaan. Maka manusia yang bebas dari angkara murkalah yang bisa menemukan Tuhan. Karena cinta manusia akan meninggalkan apa saja, karena cinta manusia akan manghadapi segala tantangan yang menghalangi menuju yang dicintainya.

“Cinta membimbingku mendekati- Mu, namun kemudian kegelisahan membawaku menjauhinya. Aku telah meninggalkan pembaringanku, cintaku, karena takut pada hantu kelupaan yang bersembunyi di balik selimut kantuk. Bangun, bangun, cintaku, dan dengarkan aku. Aku mendengar Mu, kekasihku, aku mendengar panggilanMu dari dalam lautan dan merasakan kelembutan sayap-sayapMu. (Gibran, 1999:72)”

gibran - loveiscinta

Dari pembicaraan singkat ini, tentu belum akan memuaskan keingintahuan kita terhadap warna religius dalam karya Kahlil Gibran. Memang membicarakan Kahlil Gibran tidak cukup waktu satu jam atau dua jam, tidak akan cukup empat lembar atau lima lembar kertas kwarto, tapi membicarakan Kahlil Gibran dan karyanya mungkin akan menghabiskan berlipat-lipat waktu dari umurnya dan berlipat-lipat lebih banyak kertas dari karya-karyanya.

Sebagai orang ebanon kelahiran Bishari tahun 1883, meskipun sejak remaja telah bermigrasi bersama ibunya ke Boston, Amerika Serikat, dan kemudian ke New York, tapi keakrabannya dengan alam pegunungan tanah kelahirannya kerap kal muncul dalam kenangan, dan amat mempengaruhi daya pengucapan artistiknya. “Bagiku Lebanon merupakan ekspresi poetika, bukan nama sebuah gunung”, kata Gibran.

Masa kepengarangan Gibran terbagi dalam dua tahap; tahap pertama mulai tahun 1905 dengan karya-karyanya yang berbahasa Arab adalah seperti berikut :

  •  Al-Musiqah (Musik; 1905)
  •  ‘Ara’is Al-Muruj (Putri-Putri Lembah; 1906)
  •  Al-Arwah Al Mutamarridah (Arwah Pemberontak; 1908)
  •  Al-Ajniha’l Mutakassirah (Sayap-Sayap Patah; 1912), dan
  •  Dam’ah Wa’Ibtidamah (Air Mata dan Senyum; 1914)

Tahap kedua mulai tahun 1918 dengan menulis buku-bukunya yang berbahasa Inggris antara lain yang terkenal adalah sebagai berikut :

 The Madman (Si Gila; 1918)

  • The Prophet (Sang Nabi; 1923)
  • Sand and Foam (Pasir dan Buih; 1926)
  • The Wanderer (Sang Musafir; 1932)
  • The Garden of The Prophet (Taman Sang Nabi; 1933)

Dan judul terakhir terbit secara anumerta. Namun dalam tahap ini ia menghasilkan pula tiga buah karya dalam bahasa Arab:

  •  Al-Muwakib (Profesi; 1919)
  •  Al-‘Awasif (Prahara; 1920)
  •  Al Badayi’i Wa’l Tarayif (Kata-Kata Mutiara; 1923)

Dalam tahap pertama masa kepengarangan beliau kerap menyuarakan kepedihan dan kekecewaan hati manusia, tapi juga menyarankan perlunya perubahan tata masyarakat demi keluhuran budi. Ia pun mengecam ketidakadilan terhadap wanita, penjajahan rohani, dan kecurangan. Perhatiannya selalu tertuju pada alam “di seberang cakrawala”, alam semesta, penitisan, dan perlambang alam. Setelah bermaustatin ke New York, sekalipun ia terkesan oleh penemuan teknologi modern, tapi baginya segala ciptaan Tuhan seperti bintang, kembang (bunga), dan kabut, merupakan dunia tersendiri yang mengandung keindahan alam semesta.

Sebagai manusia Gibran mengenal cinta, memaknai dan memahami arti dan isinya. Beliau juga memandang cinta sebagai sesuatu yang suci, yang ilahiah. Ia pun merasakan kekecewaaan dan kegetiran cinta, tapi ia mampu menghayati dan mengagungkan manisnya madu cinta.

mary hanskell - loveiscintaSebagai pribadi yang romantis, bisa saja dibilang “karir asmara” Gibran tidaklah secemerlang karya-karyanya. Tercatat Gibran telah menjalin kasih dengan 4 orang wanita, dan yang menggelora hanya kepada 2 di antaranya. Yang satu Mary Haskell-yang ikut berperan besar dalam karya The Prophet (Sang Nabi) serta banyak membantu penulisan buku-buku dan kehidupan Gibran selama di Amerika.

Dan yang kedua adalah May Ziadah. Kepada wanita ini cinta seorang Gibran mengalir lembut, mesra, mendalam, sekaligus intelek, sebagaimana tercermin dalam salah satu kumpulan sajaknya, Gibran: Love Letters, yang diterjemahkan dan diedit oleh Suheil Bushrui dan Salma Haffar Al-Kuzbari—terjemahannya dalam bahasa Indonesia antara lain diterbitkan oleh Gramedia: Gibran: Love Letters; Surat-surat Cinta. Kumpulan puisi (surat) ini merupakan salah satu karya sang maestro yang banyak diperbincangkan oleh para pengkagumnya.

Lihat juga karya-karya lain seperti : Broken Wings (1912) dan A Tear and A Smile (1914). Banyak yang metafsirkan bahwa kumpulan sajak dan lukisan-lukisan yang terdapat dalam Love Letters tersebut merupakan “curahan cinta”  dan “ungkapan hati” Kahlil Gibran dan May Ziadah.

Korespondensi antar-keduanya dimulai pada 1912, ketika May berkirim surat kepada Gibran mengenai tokoh Selma Karameh yang terdapat dalam Broken Wings. May sangat tersentuh dengan kisah dalam Broken Wings, yang menurut cita rasanya terlalu liberal. Menurut May, nasib yang menimpa Selma merupakan cerminan rasa ketidakadilan atas persamaan hak-hak kaum perempuan. Sejak itulah keduanya saling berkirim argumen melalui surat. Di kemudian hari, saat Gibran menetap di Amerika, May sempat menjadi editor untuk tulisan-tulisan Gibran, menggantikan posisi Mary Haskell. Pada 1921, Gibran berhasil memperoleh foto May Ziadah.

may ziadah lebanon - loveiscintaTak hanya “curhat” mereka berdua, Love Letters sebenarnya bisa dipahami sebagai ungkapan cinta yang universal, yang mendasari sebagian besar karya-karya Gibran. Dalam peta susastra dunia, nama Gibran memang layak digarisbawahi sebagai salah seorang penyair yang membawa “wahyu” cinta dan kedamaian.

Namun yang selalu menjadi tanda tanya, siapakah wanita ini? Wanita yang menjadi buah bibir manusia yang membaca rangkaian surat-surat cinta antara mereka. dan tidak di pungkiri banyak pembaca yang terinspirasi akan corak cinta yang di jalani seorang Gibran bersama cintanya May Ziadah. Siapa  May Ziadah…?

Marie Elias Ziyada–begitulah nama lengkap May Ziadah yang lahir di Nazareth, Palestina, pada tanggal 11 Februari 1886. Wanita ini adalah seorang sastrawati dan kritikus Arab yang terkemuka pada tiga dasawarsa pertama abad ini. Dia merupakan anak tunggal Elias Zakhur Ziadah,  Sebelum menetap di Kairo pada 1908, ayahnya, Elias Zakhur Ziyada, bermaustatin ke Palestina dari kampung halamannya di Shatoul, Lebanon, dan menikahi wanita berpendidikan Palestina bernama Nozha Muammer.

Elias Zakhur Ziada pindah ke Kairo pada tahun 1908; di sana akhirnya ia menjadi direktur harian Al-Mahrousah. Adapun May Ziadah yang berpendidikan dan sangat cerdas, berhasil mengembangkan bakatnya di Kairo, yang waktu itu menjadi pusat perkembangan sastra Arab. Di tahun 1911 May untuk pertama kalinya menerbitkan bukunya Fleurs de Reve (Bunga-bunga Inpian), dengan menggunakan nama samaran, Isis Copia, yang menunjukkan kecendiakawan dan ketekunannya. Secara teratur ia memuatkan artikelnya dalam koran terbitan harian dan majalah terkemuka, diantara lainnya dalam Al-Mahrousah, Al-Ahram, Al-Hilal, Al-Muqattam, Al-Muqtattaf, majalah berbahasa Perancis Progres Egyptein dan majalah berhasa inggris Egyptan Mail.

Selama kuliah di Egyptian University (1911-1914), May belajar tentang filosofi Islam dan bahasa Arab,  di bawah bimbingan beberapa Syeikh Azharite. Namun, Ahmad Luthfi Al Sayed-lah banyak memberikan ilmu tentang pengetahuan bahasa Arab dan kaligrafi kepadanya. Saat itu, dia juga belajar membaca Al-quran dan retorika bahasa Arab.

May Ziadah banyak bertukar pikiran dengan tokoh-tokoh sastra Arab, dan buah pikirannya diakui oleh banyak pihak memang berpengaruh pada perkembangan sastra Arab moderen. Kecendiakawanannya dan kecantikannya menarik perhatian dan pujian dari tokoh-tokoh sastra seperti Lutfi Al Sayyid, Taha Hussein, Yaqoub Sarrouf, Mustafa Sadek al-Rafi’i, Edgar Jallad dan lain-lain. Kepandaian, gagasan, dan penampilannya sering menjadi ilham bagi sastrawan lain. Ia pun tampil dalam gerakan emansipasi wanita.

Selama masa aktivitas sastranya, salon sastra hari Selasanya merupakan tempat yang sangat terkenal. Selama masa aktifnya menulis dalam kurun waktu 20 tahun (1911-1931), May pun tercatat sebagai sastrawan yang karya-karyanya banyak diminati orang. Tak hanya karya sastra yang dipublikasikan, surat-surat untuk sahabat-sahabatnya juga sama terkenalnya, antara lain kepada Kahlil Gibran. Selain itu, korespondensinya kepada Abbas Mahmoud El-Aqqad juga banyak didiskusikan orang.

Tulisannya yang berupa resensi dan sorotan sastra menyebabkan wanita ini berkenalan dengan Kahlil Gibran. Walaupun keduanya saling mengenal melalui surat, namun akhirnya menumbuhkan bibit-bibit cinta, yang semakin mendalam, mencapai keseimbangan, keselarasan, dan pengertian.

Hubungan cinta antara Khalil Gibran dan May Ziadah niscaya merupakan hubungan cinta yang cukup aneh dan menarik – keduanya terpisah jauh, May di Kairo dan Gibran di New York, belum pernah bertemu muka. Hubungan mereka hanya terbatas pada lembaran surat, namun sering membayangkan rasa cinta yang hadir di dalam hati masing-masing melalui khayalan dan mimpi, melalui perjalanan roh masing-masing agar dapat bersama-sama menemukan kebenaran yang sejati dan abadi.

Tidak semua surat dari kedua belah pihak dapat ditemukan. Sebagian di antara surat-surat yang tersimpan belum diizinkan untuk diterbitkan oleh keluarga yang bersangkutan. Betapa halus cinta May kepada Gibran terlukis dalam surat wanita itu :

 “…. tidak mungkin Bintang Johar itu seperti aku juga: ia mempunyai Gibran-nya sendiri — yang berada nun jauh disana, tapi sebenarnya amat dekat di hatinya. Dan tidak mungkinkah pula Bintang Johar itu sedang menulis surat kepada Gibran-nya. Saat ini juga, saat senjakala bergetar di ujung cakrawala, karena tahu bahwa gelap akan melulur senja, dan esok terang pun akan mengusir gelap; ia pun sadar bahwa malam akan menggantikan siang, siang pun besok menggantikan malam, silih berganti terus-menerus, sampai kelak ia dapat bertemu dengan kekasihnya itu. Saat ini keheningan ujung senja pun telah memeluknya, diikuti dengan kesunyian malam. Ditaruhnya penanya, lalu berlindung dari kegelapan di balik tameng sebuah nama : Gibran….”

Ketika Gibran menetap di Amerika, korespondensi dengan May terus berlangsung. Bahkan, dalam fase sulit kehidupan Gibran menjelang kematiannya—Gibran menulis surat kepada May: “I am, May, a small volcano whose opening has been closed…” 

Pada tanggal 10 April 1931 jam 11.00 malam, Gibran meninggal dunia. Tubuhnya memang telah lama digerogoti sirosis hepatis dan tuberkulosis, tapi selama ini ia menolak untuk dirawat di rumah sakit. Pada pagi hari terakhir itu, dia dibawa ke St. Vincent’s Hospital di Greenwich Village.

Hari berikutnya Marianna mengirim telegram ke Mary Haskell di Savannah untuk mengabarkan kematian penyair ini. Meskipun saat itu Mary Haskell harus merawat suaminya yang sedang menderita sakit, Mary tetap menyempatkan diri untuk melayat Gibran.

Jenazah Gibran kemudian dikebumikan tanggal 21 Agustus di Mar Sarkis, sebuah biara Karmelit di mana Gibran pernah melakukan ibadah.

Sepeninggal Gibran, Barbara Younglah yang mengetahui seluk-beluk studio, warisan dan tanah peninggalan Gibran. Juga secarik kertas yang bertuliskan, “Di dalam hatiku masih ada sedikit keinginan untuk membantu dunia Timur, karena ia telah banyak sekali membantuku.”

Diantara tahun 1927 dan 1931 May Ziadah telah kehilangan empat orang yang paling disayangi dan dicintainya: ayahnya, ibunya, Ya’ coub Sarrouf — teman dalam bidang sastra yang setia dan sepaham, dan Khalil Gibran — pria yang sangat dicintainya. Kesehatan tubuhnya menurun, sehingga perlu mengadakan perjalanan tetirah ke Perancis, Inggris, dan Italia. Seorang temannya mengatakan, bahwa May Ziadah pernah berusaha bunuh diri, tetapi berhasil diselamatkan. Dan seorang sahabat yang lain, Ameen Rihani, berhasil mengembalikan kepercayaan diri May Ziadah sehingga wanita itu kembali bersedia melanjutkan aktifitasnya dalam kegiatan sastra. Pada tahun 1938 May sanggup berdiri di mimbar American University, Beirut, memberikan kuliah berjudul “Amanah Penulis bagi Kehidupan Arab”. Namun demikian dia lebih suka menyepi, dan meskipun beliau memutuskan untuk kembali ke Kairo, kesehatannya tidak sempurna.

Tiga tahun kemudian ia meninggal dalam kesunyian tepatnya sepuluh tahun setelah kematian belahan jiwanya Gibran. May Ziadah menyusul mengadap Sang Maha Pencipta pada tanggal 19 Oktober 1941. Namun sebelum dia menghembuskan nafasnya yang terakhir, dia sadar dan dapat menerima kegetiran hidupnya, sebagaimana ucapannya pada hari-hari terakhir hidupnya, penderitaan besar adalah pengkudusan agung …. Jenazahnya telah dimakamkan di Maronite Cemetery Misr Al-Qadima.

may ziadah - loveiscintakahlil gibran iv - loveiscinta

Kisah cinta yang tersurat di lembaran-lembaran kertas putih membuat siapa saja mengkagumi arti cinta yang mereka maknai bersama walaupun mereka tidak di pertemukan di dunia, mungkin di alam baka sana, keduanya saling bertemu dan sedang bercengkerama tentang karya-karya cinta dan perjalanan hidup mereka.

Begitulah cinta yang sesungguhnya tidak memiliki dan di miliki melainkan tuk di maknai bersama….

 

Salam sayang penuh cinta lewat pena….

Natasia Maiza™

Jom Komen...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s