ANALISIS SAJAK DERAI-DERAI CEMARA KARYA CHAIRIL ANWAR : PENDEKATAN SEMIOTIKA RIFFATERRE

Teman-teman, awalnya ingin saja aku reblogged karya Mas Yogi Cahyadhi ini, namun tampilannya di blog aku kurang memuaskan mata pembaca, lalu aku ijin copy, untuk ku abadikan dan ku kongsi bersama kalian disini. Sebelumnya terima kasih banyak buat Mas Yogi.

Teman-teman, kalau kita mau maju dan berkarya jangan abaikan kritikan pembaca, karena mereka yang bakal menaikkan mutu tulisan Anda, begitu juga jangan malas tuk mencari referensi dan rajin-rajinlah membaca, karena seorang penulis itu memang tidak boleh cuma sekedar mengandalkan ilmu yang ada tanpa mencari reranting lain sebagai pemanis dan penambah rasa di dalam karya.

Jangan malu tuk terus belajar dan jangan pernah menyerah. Ilmu itu kehidupan hati daripada kebutaan, sinar penglihatan daripada kezaliman dan tenaga badan daripada kelemahan. Bukan begitu teman-teman?

“Bersungguh – sungguhlah engkau dalam menuntut ilmu, jauhilah kemalasan dan kebosanan kerana jika tidak demikian engkau akan berada dalam bahaya kesesatan.” Begitu yang disampaikan Imam Al Ghazali dan Anwar Fuadi pernah berkata bahwa :

“Belajar adalah sikap berani menantang segala ketidakmungkinan bahwa ilmu yang tak dikuasai akan menjelma di dalam diri manusia menjadi sebuah ketakutan, belajar dengan keras hanya bisa dilakukan oleh sesorang yang bukan penakut.” Maka dari itu, jangan jadi manusia yang penakut.

Tetap Semangat…!!!!

Yuk kita simak analisa yang di buat oleh Mas Yogi Cahyadhi tentang :

cemara-norfolk - loveiscinta

Derai-derai cemara
Karya Chairil Anwar

Cemara menderai sampai jauh
Terasa hari akan jadi malam
Ada beberapa dahan di tingkap merapuh
Dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi
Tapi dulu memang ada suatu bahan
Yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda-nunda kekalahan
Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah
Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan
Sebelum pada akhirnya kita menyerah

Pembacaan Heuristik

Kata Derai-derai yang digunakan penulis untuk judul sajak mempunyai arti berjatuhan atau berguguran yang biasanya digunakan untuk menyebut beberapa macam tumbuhan atau dedaunan yang sebelumnya masih berada pada sebuah pohon. Cemara merupakan jenis pohon yg berbatang tinggi lurus seperti tiang, daunnya kecil-kecil sepertt lidi, nama ilmiahnya adalah Casuarina eqnisetifolia; Cemara menderai sampai jauh, cemara dijelaskan pada bait sebelumnya merupakan sebuah jenis pohon yang berbatang tinggi lurus seperti tiang yang daunnya kecil-kecil seperti lidi. Menderai dapat digunakan sebagai sebuah gambaran guguran atau dedaunan yang berjatuhan. Jauh menggambarkan sebuah jarak yang atau panjang antaranya tidak dekat. Terasa dapat diartikan suatu suasana yang dialami oleh pelaku, hari dapat diartikan waktu selama matahari menerangi tempat kita (dari matahari terbit sampai matahari terbenam). Menjadi malam menunjukkan suasana perubahan situasi, malam diartikan waktu setelah matahari terbenam hingga matahari terbit.

Ada beberapa menunjukkan jumlah yang tidak tentu banyaknya. Lebih dari dua tetapi tidak terlalu banyak. Dahan adalah salah satu bagian dari pohon yang tumbuh mencuat dan menyamping, beranting dan berdaun. Tingkap merupakan salah satu jendela yang teltetak diatap atau di dinding pada sebuah rumah yang memiliki banyak nama. Merapuh berasal dari kata dasar rapuh yang berarti sudah lemah, rusak, tidak kuat lagi. Memperoleh penambahan prefiks yang mempunyai arti sebuah proses menuju rapuh. Dipukul adalah sesuatu yang dialami oleh subjek yaitu pukulan dengan sesuatu alat yang berat. Angin adalah gerakan udara dr daerah yg bertekanan tinggi ke daerah yg bertekanan rendah. Terpendam diartikan sesuatu yang tertanam, biasanya didalam tanah atau dapat juga dengan sesuatu yang lain.

Sekarang menunjukkan waktu saat ini atau saat yang sedang terjadi. Bisa berarti dapat atau mampu dan tahan berarti tetap keadaannya (kedudukannya dsb) meskipun mengalami berbagai-bagai hal. Sudah berarti telah terjadi. Beberapa menunjukkan jumlah yang tidak tentu jumlahnya yang lebih dari dua namun tidak terlalu banyak. Waktu mempunyai arti seluruh rangkaian saat ketika proses, perbuatan, atau keadaan berada atau berlangsung. Bukan kanak-kanak lagi. Bukan berarti berlainan dengan sebenarnya. Kanak-kanak berarti periode perkembangan anak masa prasekolah (usia antara 2-6 tahun). Dulu berarti dahulu yaitu waktu sebelum sekarang tapi dengan jangka yang cukup lama.

Suatu bahan yang dimaksudkan adalah barang yg akan dibuat menjadi satu benda tertentu; bakal; atau sesuatu yg dapat dipakai atau diperlukan untuk tujuan tertentu, spt untuk pedoman atau pegangan, untuk mengajar, memberi ceramah. Bukan merupakan menunjukkan negasi atau penyebutan sesuatu yang bukan sebenarnya. Dasar diartikan sebuah pokok atau pangkal suatu pendapat sedangkan perhitungan mempunyai arti tentang pertimbangan mengenai sesuatu. Kini menunjukkan waktu sekarang atau saat ini atau waktu dekat dengan sekarang.

Hidup diartikan sebagai sebuah keadaan yang masih tetap ada, bergerak dan berfungsi sebagai manusia. Kata ini identik digunakan pada manusia hewan atau tumbuh-tumbuhan. Hanya berarti Cuma atau menyebutkan sesuatu yang dianggap sepele atau tidak penting. Menunda berarti mengundurkan waktu pelaksanaan (yang sudah direncanakan sebelumnya). Kekalahan berarti sebuah situasi yang buruk, berada pada satu pihak yang dikategorikan lebih lemah. Terasing mempunyai arti terpisah dari yang lain atau dalam suatu keadaan yang terdiskriminatif. Cinta berarti sebuah perasaan yang manusiawi dimiliki manusia yang ditujukan kepada lawan jenis atau merupakan sebuah ungkapan sayang. Sekolah rendah menunjukkan jenjang pendidikan yang terbatas, mungkin hanya tingkat sekolah dasar yang dianggap lebih rendah dibandingkan dengan lulus SMA. Sebelum menunjukkan waktu ketika belum terjadi atau lebih dahulu dari suatu kejadian. Akhirnya berarti kesudahannya atau memberikan kesimpulan terhadap sebuah wacana yang letah dijabarkan sebelumnya. Menyerah berarti berserah pasrah, tidak mampu berbuat apa-apa.

Pembacaan Hermeneutik

Derai-derai cemara yang dipakai pengarang untuk judul sajak merupakan gambaran dari daun-daun cemara yang berguguran yang mempunyai makna tentang runtuhnya harapan tokoh sajak. Diawal kalimat menceritakan tentang cemara, cemara merupakan suatu jenis pepohonan dengan daun yang kecil dan meruncing. Digambarkan dengan suasana sore hari (hampir malam) dan beberapa dahan merapuh diterjang oleh angin malam. Merupakan penggambaran diri manusia yang mulai merapuh, dan suasana yang hamper malam menggambarkan tengtang kesadaran tentang perjalanan hidup yang pasti akan selalu berakhir dan semua yang bernyawa pasti akan mati.

Bait kedua menggambarkan kedewasaan tokoh aku, yang digambarkan dari kalimat sudah berapa waktu aku bukan kanak lagi. Penggambaran tentang pandangan si tokkoh aku yang terjadi saat dia masih kanak dan tpandangan itu tidak relevan lagi ketika dia telah beranjak dewasa atau meninggalkan masa kanak-kanaknya.

Bait ketiga merupakan penggambaran si tokoh aku tentang sebuah keterasingan. Kata jauh menggambarkan tentang cita-cita si tokoh aku yang cemerlang, akan tetapi pada kenyataannya hidup selalu penuh penderitaan dan jauh dari apa yang diharapkan oleh si tokoh aku. Kalimat Hidup hanya menunda-nunda kekalahan merupakan sebuah penggambaran tentang keputusasaan tokoh, semacam kesimpulan yang diutarakan dengan sikap mengendap, yang sepenuhnya menerima proses perubahan dalam diri manusia yang memisahkannya dari masa lalunya.

Matriks, model, dan varian puisi Derai-derai cemara

Secara umum, puisi Derai-derai cemara merupakan penggambaran sebuah kesadaran tentang sebuah perjalanan hidup manusia dan rapuh. Setiap perjalanan manusia pasti akan berakhir. Semua yang bernyawa pasti akan mati apabila telah tiba pada waktunya.

Varian yang pertama merupakan keseluruhan bait pertama (//Cemara menderai sampai jauh / Terasa hari akan jadi malam / Ada beberapa dahan di tingkap merapuh / Dipukul angin yang terpendam //) Pohon cemara menggambarkan tentang sesuatu yang lemah, rapuh, sesuai dengan bentuk daun cemara yang kecil, meruncing mudah terhempas oleh angin yang bertiup. Malam identik dengan kesunyian, kegelapan, waktu istirahat dan akhir dari sebuah kejadian. Angin memberikan gambaran tentang segala cobaan dan kepahitan dalam hidup, yang menghempas kehidupan si tokoh pusi. Sehingga dapat disimpulkan bahwa bait pertama memberikan gambaran tentang akhir dari sebuah perjalanan hidup. Merupakan sebuah kesadaran tentang segala sesuatu yang terjadi di dunia ini penuh dengan cobaan dan semua yang ada didunia ini pasti akan berakhir, semua yang bernyawa juga pasti akan mati.

Varian kedua (//Aku sekarang orangnya bisa tahan / Sudah beberapa waktu bukan kanak lagi / Tapi dulu memang ada suatu bahan / Yang bukan dasar perhitungan kini //) tokoh puisi merupakan sosok yang telah meninggalkan masa lalunya, masa kanak-kanaknya dan telah menunjukkan kedewasaannya. Tokoh puisi telah mempunyai suatu cita-cita atau pandangan hidup pada masa kecilnya, akan tetapi apa yang dicita-citakan pada waktu kecil tidak terjadi pada masa sekarang, dan pandangan tentang hidupnya telah berbeda dari apa yang pernah dia pikirkan waktu dia masih kanak-kanak.

Varian ketiga (//Hidup hanya menunda-nunda kekalahan / Tambah terasing dari cinta dan sekolah rendah / Dan tahu, ada yang tetap tidak diucapkan / Sebelum pada akhirnya kita menyerah//) kata-kata hidup hanya menunda-nunda kekalahan seolah terasa asing ditelinga, biasanya kita mengenal menunda-nunda kemenangan. Kekalahan digambarkan sebagai suatu symbol kepasrahan dan sangat identik dengan keputusanaan. Penderitaan , bahkan kematian. Cita-cita si tokoh puisi pada masa lampaunya yang begitu cemerlang namun tokoh puisi selalu mengalami penderitaan dalam hidupnya. Nampak dari kata terasingkan yang digunakanyang menceritakan tentang rencana si tokoh tentang cita-citanya namun berbeda dengan apa yang diharapkan sehingga membawa dia ke dunia yang dianggap asing dan pada akhirnya berujung pada keputusasaan, kematian.

Dapat disimpulkan, puisi Derai-derai Cemara merupakan ungkapan tentang perjalanan seorang tokoh puisi yang hidupnya penuh penderitaan, dia sempat mempunyai cita-cita yang cemerlang pada masa kecilnya namun pada kenyataannya hidupnya mengalami kepahitan dan penderitaan, sehingga membawa pada sebuah keterasingan dan menyadarkan tentang segala sesuatu yang terjadi di dunia ini pasti akan berakhir dan segala sesuatu yang bernyawa pasti akan mati.

Hipogram Puisi Derai-derai Cemara

Secara intertekstual Puisi Derai-derai Cemara karya Chairil Anwar mepunyai kesamaan ide dengan novel Olenka yang ditulis oleh Budi Dharma. Novel Olenka ini mengangkat tema ketidakberdayaan manusia atas takdir yang terjabar dalam berbagai peristiwa. Peristiwa-peristiwa yang dialami oleh Fanton Drummond, Olenka, Wayne Danton, dan Mary Carson menunjukkan bahwa mereka hanyalah boneka bagi ketentuan takdir. Sikap Budi Darma terhadap adanya kekuasaan takdir ini terangkum juga dalam pernyataan Fanton Drummond setelah gagal mendapatkan Olenka maupun Mary Carson. tokoh utamanya (Fanton Drummond, Olenka, Wayne Danton) adalah tokoh yang mengalami kesepian, kesunyian, dan keterasingan dari pergaulan masyarakat kota besar. Fanton Drummond merasa kesepian sehingga begitu berkenalan dengan Olenka, bayangan Olenka terus mengikutinya. Ia pun bertekad memperistri Olenka meskipun Olenka telah bersuami dan beranak. Olenka dan Wayne merasa kesepian karena kehidupan rumah tangga mereka tidak harmonis. Keterasingan tampak dalam tokoh Wayne dan Steve yang selalu mengucilkan diri dari pergaulan sesama. (Siswanto.163-172 )

Dari sajak tersebut hanya dua baris yang masuk ke dalam Olenka, yaitu “Hidup hanya menunda kekalahan” dan “Sebelum pada akhirnya kita menyerah” (bait ketiga). Di dalam Olenka ungkapan tersebut ditampilkan untuk mendukung suasana ketika Olenka hendak pergi meninggalkan Fanton (subbagian 1.12, hlm. 55–60). Sebelum Olenka meninggalkan Fanton, tergambarlah suasana seperti berikut.

‘Sekonyong-konyong dia menangis. Saya tidak tahu apa sebabnya, dan tidak sampai hati untuk menanya-kannya. Kemudian dia mengatakan bahwa hidupnya adalah serangkaian kesengsaraan. Bukan hanya perka-winannya saja yang hancur, akan tetapi juga seluruh hidupnya. Dia menyesal mengapa dia tidak mati ketika dia masih bayi, atau paling tidak ketika dia masih kanak-kanak, pada waktu dia masih lebih banyak mempergunakan instinknya daripada otaknya. Sekarang sudah terlambat baginya mati tanpa merasa takut menghadapinya. Hidupnya bukan hanya menunda keka-lahan, akan tetapi juga kehancuran, sebelum akhirnya dia menyerah.’ (hlm. 60)

Tampak bahwa dua baris sajak Chairil Anwar tersebut dimanfaatkan untuk membangun suasana tertentu agar kesengsaraan dan kehancuran hidup Olenka –sebelum dia akhirnya menyerah– terasa lebih dalam. Hanya saja, di dalam gambaran tersebut terasa ada semacam “manipulasi” atau “penyelewengan” makna sajak. Atau, dalam konteks itu terasa ada perbedaan yang mendasar antara apa yang dimaksudkan penyair dalam sajak dan apa yang dimaksudkan pengarang dalam novel. Akan tetapi, justru karena itulah, hubungan Olenka dengan sajak “Derai-Derai Cemara” karya Chairil Anwar tidak sekedar bersifat transformatif atau hipogramatik, tetapi juga dialektis.

Benar bahwa dua baris sajak tersebut baik oleh penyair dalam sajak maupun oleh novelis dalam novel sama-sama dipergunakan untuk menggambarkan betapa dalam “penyerahan diri” manusia kepada Tuhan. Akan tetapi, aku lirik di dalam sajak digambarkan lebih tenang dan lebih dewasa dalam menghadapi segala hal, termasuk ketika ia harus menghadapi kematian.

Sementara itu, di dalam novel, Olenka justru digambarkan sebagai figur yang penuh rasa sesal. Olenka merasa bahwa hidupnya hanyalah serangkaian kesengsaraan sehingga ia menyesal mengapa tidak mati saja ketika dirinya masih bayi. Itulah sebabnya, ia merasa takut dan cemas menghadapi kematian. Hal ini berbeda dengan sikap aku lirik di dalam sajak. Ungkapan “Aku sekarang orangnya bisa tahan” dan “Sudah lama bukan kanak lagi” menunjukkan bahwa aku lirik telah sadar dan siap menghadapi segala hal. Oleh sebab itu, ia sadar pula bahwa “hidup hanya menunda kekalahan”, karena bagaimanapun kita (manusia) pasti kalah, sehingga apa pun yang terjadi harus “diserahkan” sepenuhnya kepada Tuhan. Kalau sudah demikian, tidak perlu takut walaupun kematian segera menjemput.

Telah dikatakan bahwa di dalam konteks novel telah terjadi “penyelewengan” makna sajak. Kalau tindakan “penyerahan diri” di dalam sajak didukung oleh sikap penuh optimistik akibat dari penerimaannya terhadap adanya proses perubahan yang tidak terelakkan dalam diri manusia, tindakan “penyerahan diri” di dalam novel justru disertai dengan sikap dan rasa pesimistik akibat dari ketidaksadarannya akan proses perubahan dalam hidup. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa gambaran “penyerahan diri” Olenka (kepada Tuhan) hanya ditampilkan sebagai sebuah gambaran “penyerahan semu”.

Sumber Artikel :

Yogi Cahyadhi

——————————————

DAFTAR PUSTAKA
_________. 2003.” Puisi-puisi Chairil Anwar” , (online) (http://chairil-anwar.blogspot.com/. Diakses minggu, 20 November 2011.)
Siswanto, Wahyudi.2005. Budi Darma: karya dan dunianya. Jakarta : Gramedia Widiasarana Indonesia.
Suwondo, Tirto.2008. “Olenka, Chairil Anwar, dan Sartre Studi Intertekstual” , (online) (http://suwondotirto.blogspot.com/2008/11/studi-sastra_8784.html. diakses kamis, 8 Desember 2011.)

Jom Komen...

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s